Minggu, 06 November 2011

Pemuda Indonesia yang Peduli akan Nasib Bangsanya

Di era modernisasi dan zaman yang serba tekhnologi maju dan canggih (yang kata pak prof. B.J Habibie menyebutnya Hitech) saat ini telah banyak mencetak generasi muda bangsa yang kemampuannya beraneka ragam.Budaya westernisasi,liberalisasi dan hedonisme pun sudah di tiru, ditanamkan dalam pikiran dan hati anak negeri ini. Budaya Timur khususnya Indonesia kita tercinta yang dulunya punya adat sopan santun, rasa malu untuk berbusana minim,seksi dan mengumbar aurat, sekarang sudah berubah jadi trend westernisasi dengan adat tak bermoral. Dahulu para pemuda pendahulu kita menerapkan sistem kekeluargaan,musyawarah dan gotong royong, sekarang sudah menampakkan sifat egoisme, individualisme dan voting.

Permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah,aparat penegak hukum, aparatur pemerintahan pusat sampai ke aparatur desa banyak sekali dan membutuhkan kontribusi dari para pemuda Indonesia tercinta ini. saya teringat pidato kenegaraan Ir. Sukarno: ” Berikan aku 10 pemuda, maka aku akan mengguncang dunia”. para pejuang sebelum kemerdekaan,saat kemerdekaan dan setelah kemerdekaan sebagian besarnya adalah pemuda. Kenapa sebagian besar para pemuda kita berdiam diri, tidak perduli akan kondisi dan nasib bangsa kita sekarang ini, merasa acuh tak acuh sampai - sampai mencemooh pemerintah dan aparatur negara. Apakah kalian sudah memberikan kontribusi riil untuk negeri Indonesia kita tercinta ini? jawabannya sudah ada di benak kita masing-masing. Mka dari itu kita harus introspeksi diri, memperbaiki diri dan mempersiapkan diri kita untuk kemajuan, eksistensi, keberadaban nilai,norma,akhlak dan ciri khas negeri kita tercinta ini.



Puluhan Pemuda yang tergabung dan Front Persatuan Rakyat (FPR) menggelar aksi di Alun-alun Wonosobo. Mereka menggelar aksi teatrikal dan orasi terbuka yang menuntut kepada pemerintah agar memperhatikan pemuda terutama dalam akses pendidikan dan lapangan kerja.

Aksi puluhan pemuda ini berlangsung sore, terdiri dari Mahasiswa, Pelajar serta sejumlah komunitas pemuda meliputi FMN, AGRA, PEDAS, FKJM serta SERUNI. Kendati hujan deras, aksi dalam peringatan sumpah pemuda ini berjalan hikmat, puluhan pemuda membentangkan sapanduk serta poster di alun-alun sebelah utara. Kemudian acara dibuka dengan pembacaan puisi dan pertunjukan theatrikal yang mengisahkan tentang nasib pemuda baik pelajar, mahasiswa serta pemuda desa ditindas oleh sistem negara.

M Fatah Sururi Koordinator Aksi mengatakan bahwa aksi tetarikal ini ingin menyampaikan bagaimana nasib para pemuda Indonesia saat ini yang ditindas oleh sistem negera. Dia menyebutkan untuk pemuda desa hingga saat ini masih kesulitan dalam mendapatkan akses pendidikan, sedangkan pelajar bisa bersekolah namun pungutan sekolah tinggi dan mahasiswa mengalami hal serupa karena usai lulus kesulitan mencari kerja.

“ Situasi ini mestinya menjadi kewajiban negera untuk mengubahnya,”katanya.
Untuk itu, kata dia, dalam peringatan sumpah pemuda ini, melalaui Fron Perjuangan Rakyat pemuda Wonosobo mendesak kepada pemerintah untuk melakukan kewajibanya dalam beberapa kebijakan diantaranya, alokasikan anggaran pendidikan 20 persen seperti aturan undang-undang, membuka lapangan pekerjaan kepada pemuda agar jumlah pengangguran berkurang.

“Pemuda sering disebut harapan masa depan, namun negara tidak pernah memperhatikan pemuda,”katanya.

Rizky Nur Komariyah dari FMN menambahkan, bahwa kondisi pendidikan di Indonesia saat ini sangat memperitahinkan karena tuntutan undang-undang agar dialokasikan anggaran 20 persen tidak djuga diwujudkan. Selain itu untuk pengurangan angka pengangguran negara tidak pernah bekerja, disebutkan dia berdasarkan data Unesco jumlah pemuda di Indonesia yang terserap dalam dunia kerja hanya 60 persen tiap tahunya. Selebihnya menganggur.

“ Kalau situasi ini tetap dibiarkan, maka akan berdampak pada kemiskinan serta angka kriminal tinggi,”katanya.
Untuk itu, kata dia, dalam moment sumpah pemuda ini Pemerintah sebagai pemangku kewajiban dituntut melakukan perubahan dengan mengalokasikan anggaran pendidikan minimal 20 persen diluar gaji buru dan operasional sekolah. Selain itu harus memudahkan akses pendidikan bagi pemuda desa serta membuka lapangan pekerjaan.

“ Negara hanya sibuk mengurus politik tanpa melihat nasib para pemuda,” pungkasnya.



sumber  :   http://e-wonosobo.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2091:pemuda-tuntut-lapangan-pekerjaan&catid=101:seputar-wonosobo&Itemid=493

Tidak ada komentar:

Posting Komentar