Jumat, 11 Februari 2011

Renungan Sang Ayah

Bayang mu menatap kosong
Penuh arti dan misteri
Nanar aku dibuatnya

Lirih mata ini tuk bertatap
Seakan ada tombak tertancap
Terasa sakit walau hampa ikut menjerit

Ku telusuri guratan-guratan di wajahnya
Mencari maksud hati
yg tak terhindari
Membaca gerak-gerik raganya
Penuh pilu dan gelisah

Bayang-bayang resah mengiringi langkahnya
Mengalun-alun bagai burung yg menari-nari

Dapat ku lihat sisipan keraguan di hatinya
Dapat ku rasakan kegalauan yg ia simpan
Dapat ku dengar rintihan pelu kesahnya
Mencoba ditutupi seperti beban yg tiada akhir

by : Putri Citra Rahman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar