Sore itu Reza
berniat mengunjungi wanita yang sangat dicintainya yaitu Mey. Mey merupakan
gadis paling dikagumi para pria di kampusnya 2 tahun lalu sebelum kecelakaan
itu merenggut penglihatannya.
Mey sangat membenci
Reza, dari gayanya sampai penampilannya yang menurutnya gak bangeett..
Reza orang yang sederhana, gak berpenampilan modis tapi orangnya periang dan usil. Walaupun fisik Mey sudah tak sesempurna dulu tapi Reza tetap mencintai gadis itu.
Sore hari
dirumah Mey...
“Mau sampe
kapan sih lo ngurung diri dikamar ? Ayoo dong mana Mey yang gue kenal dulu ?”
celetuk Dita. “Lo gak ngerti apa yang
gue rasain Dit, gue malu sama diri gue yang cacat ini, sampe-sampe Rey
ninggalin gue karena gue cacat..” tegas Mey sambil terisak.
Tak lama
setelah itu datanglah Reza dengan membawa martabak keju kesukaan Mey. Dita yang
menyadari kedatangan Reza langsung memberitahukannya pada Mey.
“Tuh
penggemar berat lo dateng lagi” kata
Dita. “Iiihh mau ngapain lagi sih tuh cowok ? Gak ada bosen-bosennya gangguin
hidup gue! Udah lo usir aja Dit atau bilang gue lagi sakit” kata Mey.
Akhirnya
Dita yang menemui Reza..
“Wah elo
Dit, ngapain disini ? Oh iya ayang gue mana ? Gue udah bawa makanan kesukaan
dia nih”.
“ayang ayang dari hongkong! Si Mey lagi sakit jadi gak bisa di
temuin, udah sana lo pulang, ngapain lama lama disini” ketus Dita.
“Hah Mey
sakit apa ? Udah berapa lama ?” Reza mulai panik.
Sikap Reza
yang sengaja menyerobot masuk ke kamar Mey tentu membuat Mey kesal.
“eh apa-apaan
lo masuk-masuk ke kamar orang!” Mey terdengar kesal. “Dita bilang kalo lo
sakit. Kan gue khawatir takut lo kenapa-kenapa. Lo sakit apa? Udah minum obat?
Ini gue bawain makan kesukaan lo.” Reza memberi perhatian.
“Aaaahh gak
usah sok peduli deh sama gue, mau gue sakit kek, mau gue mati sekalian bukan
urusan lo! Udah sana pergi jangan sok perhatian, gue ga butuh perhatian dari
lo!” geram Mey.
“ya udah gue
pergi tapi inget pesen gue ya jangan lupa minum obat dan makan martabaknya,
udah gitu jangan ngurung diri dikamar. Temen-temen yang lain rindu senyuman lo
yang dulu..” kata Reza.
Reza pun
pergi dari rumah Mey dan Dita juga ikutan pamit karena sudah malam.
Hari demi
hari Mey lewati dengan sikap yang dingin,
murung dan pemarah. Tidak ada yang
berhasil membujuknya untuk kembali ceria seperti dulu. Namun disaat semua orang
hampir menyerah membujuk dan menyemangatinya, ada Reza yang dengan tulus selalu
ada untuknya walaupun Mey menanggapinya dengan sikap dingin.
Kata dokter
kebutaan mata pada Mey hanya bisa disembuhkan dengan cara donor kornea. Tapi
sampai sekarang keluarga Mey belum menemukan orang yang kornea matanya sesuai
dengan Mey.
Malam itu
Reza panik karena mendapat telp dari Dita bahwa Mey pingsan dan dilarikan ke
rumah sakit. Saat itu juga Reza pergi ke rumah sakit dengan perasaan cemas.
Reza mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi tapi naas menimpanya.
Dari arah yang berlawanan ada truk yang melaju sangat kencang. Dan keduanya bertabrakan sangat keras hingga membuat truk oleng ke samping.
Dari arah yang berlawanan ada truk yang melaju sangat kencang. Dan keduanya bertabrakan sangat keras hingga membuat truk oleng ke samping.
Reza yang
dalam keadaan kritis dan berlumuran darah segera dilarikan ke rumah sakit yang
ternyata di rumah sakit yang sama dengan Mey.
Andre teman Reza yang melihat
kejadian itu langsung memberitahukan Dita.
Lalu Dita
pun memberitahukan Mey ketika Mey sadar dari pingsannya. Tapi Mey terlihat acuh
dan tidak peduli dengan keadaan Reza.
Tak lama
dokter datang memberitahukan kabar gembira untuk Mey kalau sudah ada orang yang
mau mendonorkan kornea mata untuknya. Mey tentu sangat senang mendengarnya. Dia
tidak sabar untuk melihat lagi seperti dulu.
Mey penasaran siapa orang yang rela mendonorkan mata untuknya, dia ingin berterima kasih pada orang itu. Namun dokter enggan memberitahukan siapa pendonor itu.
Mey penasaran siapa orang yang rela mendonorkan mata untuknya, dia ingin berterima kasih pada orang itu. Namun dokter enggan memberitahukan siapa pendonor itu.
1 jam kemudian terdengar kabar dari Andre
kalau Reza meninggal. Semua keluarga dan sahabat sangat sedih melihat kepergian
Reza. Hanya Mey yang merasa senang atas kepergiannya karena tidak ada lagi
pengganggu hidupnya.
Setelah
beberapa hari setelah kepergian Reza, Mey saat itu bisa melihat lagi. Andre
datang membawakan sepucuk surat yang di tulis olehnya atas perintah Reza. Mey
membuka surat itu yang isinya...
“Untuk orang
yang pernah ada di hatiku..
Terima kasih telah membuat ku merasakan
cinta.
Tersenyumlah seperti dulu..
Seperti bintang-bintang yang bersinar.
Jangan merasa kau bukan apa-apa.
Aku selalu ada untukmu walau raga tak lagi
bertemu.
Jaga baik-baik mata ku..
Berikan senyum indah mu dan jangan tangisi
kepergian ku..”
Mey yang
membaca surat itu langsung lemas dan menangis. Dia baru sadar betapa besar
ketulusan Reza untuknya. Dia juga baru mengetahui bahwa Reza lah yang
mendonorkan mata untuknya.
Saat itu juga dia teringat semua yang dia lakukan kepada Reza. Mey merasa dirinya sangat jahat dan tidak pantas menerima mata darinya. Mey sangat menyesal atas apa yang dia lakukan selama ini.
Saat itu juga dia teringat semua yang dia lakukan kepada Reza. Mey merasa dirinya sangat jahat dan tidak pantas menerima mata darinya. Mey sangat menyesal atas apa yang dia lakukan selama ini.
Dalam
kesendirian Mey berkata, “Terima kasih Reza atas segala apa yang kau berikan
selama ini, terima kasih telah mengembalikan hidup ku. Dan maafkan aku karena
selalu bersikap jahat terhadapmu.”
“Walau raga
mu kini jauh, tapi kenangan tentang mu akan selalu ada di hati ku....”
Created
By :
PUTRI CITRA RAHMAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar