Jumat, 07 Oktober 2011

Surat Terindah Untuk Dia Yang Pernah Ada




Sore itu Reza berniat mengunjungi wanita yang sangat dicintainya yaitu Mey. Mey merupakan gadis paling dikagumi para pria di kampusnya 2 tahun lalu sebelum kecelakaan itu merenggut penglihatannya.

Mey sangat membenci Reza, dari gayanya sampai penampilannya yang menurutnya gak bangeett..

Reza orang yang sederhana, gak berpenampilan modis tapi orangnya periang dan usil. Walaupun fisik Mey sudah tak sesempurna dulu tapi Reza tetap mencintai gadis itu.

Sore hari dirumah Mey...
“Mau sampe kapan sih lo ngurung diri dikamar ? Ayoo dong mana Mey yang gue kenal dulu ?” celetuk  Dita. “Lo gak ngerti apa yang gue rasain Dit, gue malu sama diri gue yang cacat ini, sampe-sampe Rey ninggalin gue karena gue cacat..” tegas Mey sambil terisak.

Tak lama setelah itu datanglah Reza dengan membawa martabak keju kesukaan Mey. Dita yang menyadari kedatangan Reza langsung memberitahukannya pada Mey.

“Tuh penggemar berat lo dateng lagi”  kata Dita. “Iiihh mau ngapain lagi sih tuh cowok ? Gak ada bosen-bosennya gangguin hidup gue! Udah lo usir aja Dit atau bilang gue lagi sakit” kata Mey.

Akhirnya Dita yang menemui Reza..
“Wah elo Dit, ngapain disini ? Oh iya ayang gue mana ? Gue udah bawa makanan kesukaan dia nih”.

“ayang ayang dari hongkong! Si Mey lagi sakit jadi gak bisa di temuin, udah sana lo pulang, ngapain lama lama disini” ketus Dita.

“Hah Mey sakit apa ? Udah berapa lama ?” Reza mulai panik.
Sikap Reza yang sengaja menyerobot masuk ke kamar Mey tentu membuat Mey kesal.

“eh apa-apaan lo masuk-masuk ke kamar orang!” Mey terdengar kesal. “Dita bilang kalo lo sakit. Kan gue khawatir takut lo kenapa-kenapa. Lo sakit apa? Udah minum obat? Ini gue bawain makan kesukaan lo.” Reza memberi perhatian.

“Aaaahh gak usah sok peduli deh sama gue, mau gue sakit kek, mau gue mati sekalian bukan urusan lo! Udah sana pergi jangan sok perhatian, gue ga butuh perhatian dari lo!” geram Mey.

“ya udah gue pergi tapi inget pesen gue ya jangan lupa minum obat dan makan martabaknya, udah gitu jangan ngurung diri dikamar. Temen-temen yang lain rindu senyuman lo yang dulu..” kata Reza.

Reza pun pergi dari rumah Mey dan Dita juga ikutan pamit karena sudah malam.

Hari demi hari Mey lewati dengan sikap yang dingin, 
murung dan pemarah. Tidak ada yang berhasil membujuknya untuk kembali ceria seperti dulu. Namun disaat semua orang hampir menyerah membujuk dan menyemangatinya, ada Reza yang dengan tulus selalu ada untuknya walaupun Mey menanggapinya dengan sikap dingin.

Kata dokter kebutaan mata pada Mey hanya bisa disembuhkan dengan cara donor kornea. Tapi sampai sekarang keluarga Mey belum menemukan orang yang kornea matanya sesuai dengan Mey.

Malam itu Reza panik karena mendapat telp dari Dita bahwa Mey pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Saat itu juga Reza pergi ke rumah sakit dengan perasaan cemas. Reza mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi tapi naas menimpanya.

Dari arah yang berlawanan ada truk yang melaju sangat kencang. Dan keduanya bertabrakan sangat keras hingga membuat truk oleng ke samping.

Reza yang dalam keadaan kritis dan berlumuran darah segera dilarikan ke rumah sakit yang ternyata di rumah sakit yang sama dengan Mey.

Andre teman Reza yang melihat kejadian itu langsung memberitahukan Dita.
Lalu Dita pun memberitahukan Mey ketika Mey sadar dari pingsannya. Tapi Mey terlihat acuh dan tidak peduli dengan keadaan Reza.

Tak lama dokter datang memberitahukan kabar gembira untuk Mey kalau sudah ada orang yang mau mendonorkan kornea mata untuknya. Mey tentu sangat senang mendengarnya. Dia tidak sabar untuk melihat lagi seperti dulu.

Mey penasaran siapa orang yang rela mendonorkan mata untuknya, dia ingin berterima kasih pada orang itu. Namun dokter enggan memberitahukan siapa pendonor itu.

1 jam kemudian terdengar kabar dari Andre kalau Reza meninggal. Semua keluarga dan sahabat sangat sedih melihat kepergian Reza. Hanya Mey yang merasa senang atas kepergiannya karena tidak ada lagi pengganggu hidupnya.

Setelah beberapa hari setelah kepergian Reza, Mey saat itu bisa melihat lagi. Andre datang membawakan sepucuk surat yang di tulis olehnya atas perintah Reza. Mey membuka surat itu yang isinya...

“Untuk orang yang pernah ada di hatiku..
  Terima kasih telah membuat ku merasakan cinta.
  Tersenyumlah seperti dulu..
  Seperti bintang-bintang yang bersinar.
  Jangan merasa kau bukan apa-apa.
  Aku selalu ada untukmu walau raga tak lagi bertemu.
  Jaga baik-baik mata ku..
  Berikan senyum indah mu dan jangan tangisi kepergian ku..”

Mey yang membaca surat itu langsung lemas dan menangis. Dia baru sadar betapa besar ketulusan Reza untuknya. Dia juga baru mengetahui bahwa Reza lah yang mendonorkan mata untuknya. 

Saat itu juga dia teringat semua yang dia lakukan kepada Reza. Mey merasa dirinya sangat jahat dan tidak pantas menerima mata darinya. Mey sangat menyesal atas apa yang dia lakukan selama ini.

Dalam kesendirian Mey berkata, “Terima kasih Reza atas segala apa yang kau berikan selama ini, terima kasih telah mengembalikan hidup ku. Dan maafkan aku karena selalu bersikap jahat terhadapmu.”

“Walau raga mu kini jauh, tapi kenangan tentang mu akan selalu ada di hati ku....”

 
 
 

Created By  :  PUTRI CITRA RAHMAN



Tidak ada komentar:

Posting Komentar